[KabarNusantara] Meneguhkan Kebangsaan di Tengah Arus Global: Refleksi Komunitas Tionghoa Indonesia Menjelang Imlek 2026

Diskursus mengenai identitas dan peran komunitas Tionghoa Indonesia kembali mengemuka menjelang perayaan Imlek 2026. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina), Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI), dan Forum Sinologi Indonesia (FSI) berkolaborasi menggelar diskusi bertajuk "Imlek 2026: Ketionghoaan dalam Bingkai Budaya Indonesia" pada hari Sabtu, 28 Februari 2026. Forum ini menjadi wadah penting untuk merefleksikan posisi komunitas Tionghoa Indonesia di tengah derasnya arus investasi global, khususnya dari Tiongkok, serta menguatkan komitmen kebangsaan sebagai landasan utama dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Diskusi ini menghadirkan beragam perspektif dari akademisi, praktisi, dan perwakilan organisasi kemasyarakatan, yang menyoroti kompleksitas identitas Tionghoa Indonesia dalam konteks dinamika global. Salah satu isu krusial yang dibahas adalah bagaimana komunitas Tionghoa Indonesia merespons peningkatan investasi Tiongkok di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang loyalitas, identitas, dan tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia.

Dr. Thung Julan, seorang peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Negara (BRIN), menekankan bahwa identitas bukan sekadar persoalan budaya, melainkan juga sebuah pilihan politik yang mengandung konsekuensi. Berbangsa dan bernegara, menurutnya, adalah keputusan politik yang menuntut tanggung jawab penuh. Identitas terbentuk melalui proses interaksi sosial yang panjang dan kompleks, mulai dari perjumpaan budaya, akulturasi, hingga asimilasi, yang dalam konteks sejarah Indonesia melahirkan kelompok peranakan dengan ciri khasnya sendiri.

Dr. Julan menjelaskan bahwa kedatangan orang Tionghoa ke Indonesia terjadi dalam berbagai periode waktu, menghasilkan keragaman internal yang signifikan. Ada kelompok totok yang orientasinya lebih kuat ke Tiongkok, dan ada pula kelompok peranakan yang lebih terikat dengan budaya lokal. Namun, dalam konteks hubungan Indonesia dengan Tiongkok saat ini, ia mengingatkan bahwa posisi orang Tionghoa Indonesia harus jelas dan tegas sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia. "Kita tidak bisa berharap negara lain membantu kita, karena kita adalah bagian dari Indonesia," tegasnya. Pernyataan ini menekankan pentingnya menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan primordial atau sentimen etnis.

Christine Susanna Tjhin dari Gentala Institute menyoroti fenomena peningkatan arus investasi Tiongkok ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir. Arus investasi ini melahirkan kategori "pendatang baru" generasi terbaru di berbagai negara, termasuk Indonesia. Situasi ini semakin memperumit pembahasan mengenai identitas dan posisi diaspora Tionghoa di tengah dinamika global. Muncul pertanyaan tentang bagaimana pendatang baru ini berintegrasi dengan masyarakat lokal, bagaimana mereka memahami dan menghargai budaya Indonesia, dan bagaimana mereka berkontribusi positif bagi pembangunan bangsa.

Selain itu, Christine juga menekankan peran media sosial dalam memperkuat pertarungan pengaruh global, terutama antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Masyarakat perlu lebih kritis dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial, agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi yang bersifat politis atau ideologis. Literasi media menjadi sangat penting dalam menghadapi gempuran informasi yang seringkali bias atau bahkan disinformasi.

(Grafik: CS.Tjhin 2026)

Perwakilan IPTI, Septeven Huang, memberikan perspektif dari generasi muda. Ia menilai bahwa generasi muda memiliki peran krusial dalam membangun identitas Tionghoa yang berbingkai Indonesia, termasuk dalam aktivitas sosial dan ekonomi. Ia mengingatkan agar generasi muda Tionghoa tidak menjiplak mentah-mentah budaya luar tanpa memahami padanannya dalam kebudayaan Tionghoa yang telah berakulturasi dengan Indonesia. "Jangan sampai generasi muda Tionghoa menjiplak langsung budaya luar tanpa memahami padanannya dalam kebudayaan Tionghoa yang telah berakulturasi dengan Indonesia," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Tionghoa Indonesia yang unik dan kaya.

Septeven mencontohkan bagaimana generasi terdahulu beradaptasi dengan budaya setempat melalui perkawinan campur dan keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial, sambil tetap melestarikan tradisi seperti perayaan Tahun Baru Imlek. Hal ini menunjukkan bahwa identitas Tionghoa Indonesia bukanlah sesuatu yang statis dan eksklusif, melainkan sesuatu yang dinamis dan inklusif, yang terus berkembang seiring dengan perubahan zaman dan interaksi dengan budaya lain.

Ia menegaskan bahwa komitmen sebagai bangsa Indonesia harus tetap menjadi pijakan utama. "Kami Tionghoa, dan kami Indonesia," katanya dengan penuh semangat. Pernyataan ini merupakan deklarasi identitas yang jelas dan tegas, yang menempatkan keindonesiaan sebagai prioritas utama.

Budiman Tanah Djaya, Sekretaris Aspertina, menambahkan bahwa identitas Tionghoa dalam bingkai budaya Indonesia bersifat dinamis dan progresif. Ia berpendapat bahwa setiap generasi memiliki pengalaman sejarah yang berbeda, yang memengaruhi cara mereka memaknai identitas. Generasi pasca-Reformasi 1998, misalnya, tumbuh dalam suasana yang lebih terbuka dan inklusif, sehingga memiliki pemahaman yang berbeda tentang identitas Tionghoa dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Pemerhati Tiongkok dan masyarakat Tionghoa Indonesia, Johanes Herlijanto, mengutip pandangan akademisi Singapura Wang Gungwu mengenai kemampuan diaspora Tionghoa beradaptasi dengan masyarakat setempat. Menurutnya, sepanjang sejarah Indonesia, komunitas Tionghoa telah menunjukkan kemampuan tersebut dengan mengedepankan keindonesiaan dalam budaya maupun identitas politik. Hal ini dibuktikan dengan kontribusi komunitas Tionghoa dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari ekonomi, sosial, hingga budaya.

Diskusi ini menyimpulkan bahwa di tengah menguatnya arus investasi dan pengaruh global, komitmen kebangsaan perlu terus ditegaskan sebagai fondasi dalam kehidupan sosial maupun aktivitas ekonomi. Komunitas Tionghoa Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta berkontribusi positif bagi pembangunan Indonesia.

Perayaan Imlek 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali identitas dan peran komunitas Tionghoa Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Dengan mengedepankan komitmen kebangsaan, melestarikan warisan budaya, dan berkontribusi positif bagi pembangunan bangsa, komunitas Tionghoa Indonesia dapat terus menjadi bagian integral dari masyarakat Indonesia yang majemuk dan harmonis.

Forum diskusi ini menjadi bukti nyata bahwa komunitas Tionghoa Indonesia memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan Indonesia. Dengan terus menjalin dialog dan kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat, komunitas Tionghoa Indonesia dapat terus memperkuat identitasnya sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia yang besar dan beragam.

Komentar

Terpopuler 热搜

15 Tahun Menunda, Tapi Tidak Lupa (Mei 1998)

OPINION: 18 Years Ago Today: May 1998 and to Never Forget

OPINION: (Anti) Corruption in China’s Belt and Road Initiative